Kompor Berbahan Bakar Minyak Jelantah & Oli Bekas

  • 6 months ago
  • Sumber: umkm [dot] online
  • 246

Jangan anggap enteng minyak jelantah, atau minyak goreng yang sudah digunakan. Sebab bekas minyak goreng ini ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan untuk kompor masak.

Ide untuk penggunaan minyak jelanta pada kompor untuk memasak tersebut merupakan hasil inovasi dari Agus Hendra, Dwi Wahyuno, Rizal Abdillah dan Ilham Rahmana, yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya.

"Projek ini mulai digagas pada 2013 lalu, dimana ada keinginan untuk memanfaatkan limbah yang ada disekitar kita," ujar Agus, Senin (28/3/2016).

Dikatakan Agus, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan bakar berdampak positif, karena jika dibuang minyak jelantah bisa mencemari lingkungan. Jika dipakai berulang 3 hingga 4 kali akan memicu penyakit kanker, kolesterol, hipertensi dan penyumbatan peredaran darah bagi penggunanaya.

Jenis formulasi yang terkandung dalam minyak jelantah ini tidak larut dalam air dan dapat mencemari lingkungan bila dibuang ke dalam air dan tanah. Limbah minyak goreng memiliki potensi sebagai alternatif energi bahan bakar nabati yang ramah lingkungan. Biodiesel dari limbah penggorengan ini mampu mengurangi pencemaran air,tanah, udara, sehingga mendukung program pemerintah tentang pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan.

"Kompor berbahan bakar minyak jelantah ini memiliki keseimbangan karbon dioksida netral sehingga tidak beresiko meledak. Bahkan, selama kompor minyak jelanta (Komjen) ini menyala, kita tetap bisa melakukan pengisian ulang, dengan cara membuka tutup kepala tabung yang menjadi tempat penampungan minyaknya lalu memasukan tambahan minyak jelanta," jelasnya.

Selain minim resiko ledakan, kelebihan lainnya adalah lebih hemat, kualitas api lebih panas daripada hasil api dari elpiji, dan multi fuel atau semua jenis bahan bakar dapat digunakan seperti, minyak nabati, minyak jelantah, hingga oli bekas pakai.

"Jika dibandingkan dengan kompor gas, Kompor minyak jelanta lebih hemat. Bahan bakarnya sendiri bisa dibeli dengan harga murah atau bisa mendapatkannya secara gratis. Dari 1 liter minyak jelanta atau oli bekas yang digunakan itu bisa digunakan untuk memasak selama 40 menit hingga satu jam. Untuk satu tabung kompor minyak jelanta ini berukuran 12 liter," kata Agus.

Untuk saat ini, lanjut Agus, ia dan rekannya masih fokus untuk memproduksi Komjen untuk kalangan industri. Sedangkan untuk harga satu set Komjen, yakni tabung, control box dan tungku dihargai Rp 1,6 juta.

Namun, yang menjadi kendala Agus, dkk untuk melebarkan usahanya adalah terkendala pada biaya produksi. "Sekarang kendalanya cuma untuk modal produksinya," ujarnya.

Beragam penghargaan pun telah diraih dari hasil pemanfaatan minyak jelanta, oli bekas pakai menjadi bahan bakar. Diantaranya, dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Perekonomian dan lain sebagainya.

Sementara itu, salah seorang konsumen yang telah menggunakan kompor inovasi Agus dkk, Apriadjie mengatakan, sejak menggunakan Komjen untuk usaha kripik kentangnya, ia mengaku biaya produksi lebih hemat dibandingkan saat menggunakan kompor gas.

"Jauh lebih hemat, apalagi minyak jelanta atau oli bekas pakainya dapat gratis. Sedangkan saat menggunakan tabung melon sehari bisa mengeluarkan biaya Rp 50 ribu." katanya.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG