Kenali 6 Perilaku Buruk yang Memaksa Orang Menjauhimu

  • 8 months ago
  • Sumber: udon & berbagai sumber
  • 560

UMKM.ONLINE - Dalam keseharian kita sering jumpai beragam perilaku yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Bisa kita lihat perilaku buruk yang mendorong orang bisa menjauhi kita di lingkungan bisnis dan tempat kerja. Kita bisa amati dampak yang disebabkan dari perilaku ini terhadap hubungan, kesuksesan dan kesejahteraan individu yang berperilaku negatif kepada semua orang di sekitarnya.

 

Dalam dunia nyata kadang kala kita tidak dapat menghindar dari perilaku ini. Tetapi banyak orang pula yang bisa mengendalikan diri secara sadar dan bijak menyikapi dorongan untuk berprilaku buruk dalam kehidupan mereka sehari-hari. Apakah perilaku buruk ini sudah menjadi kebiasaan atau hanya sesekali saja? Penting bagi kebahagiaan dan kesuksesan kita untuk mengenali perilaku buruk kita dan mengubahnya ketika itu terjadi.


Enam kebiasaan buruk yang sering terjadi sehari-hari:

 

1.     Baper-an (Bawa Perasaan), menanggapi sesuatu secara pribadi

 

Orang-orang yang berperilaku buruk biasanya mempercai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya adalah serangan langsung kepada dirinya atau segala yang sedang terjadi di lingkungannya adalah tentang mereka. Sebenarnya orang-orang itu banyak membicarakan tentang mereka sendiri bukan selalu tentang anda.  Reaksi orang di sekitar kita ini adalah filter tentang mereka, perspektif, luka dan pengalaman mereka sendiri. 

 

Apakah orang akan berpikir anda luar biasa atau selalu mempercayai anda adalah orang yang paling buruk, sekalli lagi sebenarnya ini semua tentang mereka. Pada konteks ini kita tidak diarahkan untuk narsis dan mengabaikan orang-orang di lingkungan kita. Tetapi pada kenyataan begitu banyak rasa sakit, kekecewaan dan kesedihan dalam hidup kita yang berasal dari cara kita menyikapi sesuatu secara pribadi. Jauh lebih produktif dan sehat apabila kita bisa menerima dan memaklumi semua pendapat baik ataupun buruk orang lain tentang kita. Gunakanlah hati dan intuisi kita. Kebijaksanaan kita yang dapat mengendalikannya. Jadi mulai sekarang jangan menanggapi apapun secara pribadi ya.

 

 

2.     Terobsesi dengan Pikiran Negatif

 

Sangat sulit untuk merasa nyaman berada di sekitar orang-orang yang selalu berpikiran negatif dan terus menerus membicarakan hal-hal buruk yang akan terjadi atapun yang telah terjadi, seperti penghinaan yang sering mereka terima dan ketidakadilan kehidupan. Orang seperti ini biasanya menolak untuk melihat sisi positif kehidupan dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi. Pesimisme dan terkurung dalam perpektif dunia yang negatif dan seolah-olah ini semua melawan mereka. Kehidupan yang sangat tidak nyaman dan apa rasanya kalau kita diajak masuk ke dalamnya? Be-te kan?



3.     Memperlakukan diri kita seperti seorang korban

 

Perilaku buruk lainnya adalah selalu berkeluh kesah yang menyulut perasaan bahwa kita adalah korban. Meyakini kalau kita adalah korban yang tidak memiliki kekuatan untuk mengerahkan kemampuan untuk mengendalikan arah hidup kita adalah sikap buruk yang membuat kita mandeg dan tetap kecil. 

 

Kita memiliki akses kepada kekuatan diri yang lebih besar, otoritas penuh untuk mengubah arah kehidupan ini. Ketika berhenti merengek, dan menolak untuk melihat diri kita sebagai korban takdir, nasib atau diskriminasi kehidupan kita yang malang, maka kita akan menemukan kenyataan bahwa kita lebih kuat daripada apa yang kita yakini semula selama kita bisa menerima kenyataan dan semua anugerah yang telah diberikan kepada kita.

 

 

4.     Kasar dan Kurangnya Empati

 

Salah satu perilaku yang paling buruk dan merusak adalah sifat kasar yang berasal dari kurang empati, kepedulian dan belas kasihan terhadap orang lain. Kita sering lihat bagaimana orang-orang ini menggunakan media sosial untuk mempertunjukkan kekasarannya dan bisa merusak orang lain hanya karena mereka punya kesempatan. Mereka menjatuhkan orang secara online tetapi dengan cara pengecut, menggunakan anonimitas mereka sebagai senjata. Kekasaran, mencaci maki dan mencabik-cabik seseorang adalah racun yang akan mematikan kita sendiri dan bisa menyakiti target yang dituju. 

 

Banyak hal yang bisa berbalik kepada kita. Suatu ketika seorang istri berbagi cerita dengan komentar yang kasar kepada suaminya tentang bagaimana cara tetangga sebelah mengasuh anaknya. Dalam waktu 24 jam, masalah yang sama hinggap di kehidupan si istri ini sebagai ibu yang bertengkar dengan anaknya. Seoalah-olah alam semesta ini mengirim pesan, “ jika anda ingin bersikap kasar dan merendahkan orang lain, kami akan memberi anda pengalaman yang sama dengan apa yang anda nilai negatif tersebut, sehingga anda dapat belajar tentang berbelas kasih”. 

 

Jika kita merasa diri kita kejam, menusuk dan menjatuhkan orang lain, segera berhentilah! Gali lebih dalam diri kita dan temukan rasa kasih sayang di hati kita dan menyadari bahwa kita semua sama.

 

 

5.     Reaksi yang berlebihan

 

Tidak bisa mengelola emosi kita adalah racun bagi semua orang di sekitar kita. Kita sering temukan pria atau wanita yang marah-marah karena hal sepele, marah-marah karena cegukan, teriak ke kasir karena antrian yang panjang, marah kepada anak karena menumpahkan susu di lantai dan sebagainya.

 

Jika kita terlalu reaktif, kehilangan kontrol di setiap kesempatan, mungkin kita perlu bantuan dari pihak luar untuk membantu kita mengendalikan emosi dan memahami apa yang menjadi akar emosi kita. Layaknya gunung es, masih banyak aspek yang tidak terlihat di permukaan. 

 

 

6.     Membutuhkan Pengakuan Sosial

 

Orang-orang yang terus menerus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan harga diri sebagai ukuran keberhasilannya dari luar akan melelahkan orang-orang di sekitarnya. Pria dan wanita yang terjebak dalam konteks “pembuktian” ini terus menerus ingin menang atas rekan-rekan mereka, sangat buruk dan menguras tenaga. 

 

Kaku dalam melihat sesuatu dan “cara” yang ingin selalu menang untuk mencapai sesuatu akan melelahkan kita dan orang-orang di sekeliling kita. Cobalah hidup dengan cara yang lebih fleksibel dan memudahkan. 

 

Berhentilah menekankan pada hasil tertentu dengan mengabaikan orang lain pun punya keinginan.  “Saya butuh promosi jabatan itu sekarang!” atau “rumah saya harus lebih besar dan indah dari tetangga sebelah”. Keputus-asaan untuk membuktikan dominasi sosial anda melalui ukuran-ukuran materi akan menjauhkan kebahagiaan yang anda harapkan. 


Penulis: Team UDON

Catatan: Jika ingin mengutip mohon disebutkan umkm.online sebagai sumbernya.